Membangun Perusahaan Cerdas untuk Indonesia 4.0 – Langkah-langkah untuk Rancangan Industri 4.0

Senior Industry Value Advisor, SAP

Published on
Reading Time: 8 minutes

Background

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meluncurkan program Making Indonesia 4.0 pada 4 April 2018. Inisiatif ini selanjutnya akan dikoordinir oleh Kementerian Perindustrian. Alasan ekonomi diluncurkannya program ini yang dipaparkan dalam laporannya adalah sebagai berikut:

  1. Pembelanjaan Indonesia dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi lebih sedikit dibanding negara-negara lainnya
  2. Biaya produktivitas tenaga kerja di Indonesia tidak mengalami peningkatan
  3. Neraca perdagangan Indonesia mengalami penurunan
  4. Investasi luar negeri Indonesia menunjukkan stagnasi

Di samping itu, di antara tiga sektor perekonomian Indonesia (Sumber Daya, Manufaktur, dan Jasa), sektor manufaktur melemah sementara sektor jasa mulai menunjukkan peningkatan (Gambar 1). Dan khususnya yang berkaitan dengan pasar lapangan kerja, Indonesia perlu menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan untuk mengakomodir kurang lebih 30 juta penduduk usia kerja yang akan memasuki pasar (Gambar 2).

Source: www.kemenperin.go.id/download/18384

Source: www.kemenperin.go.id/download/18384

Dengan pertimbangan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan teknologi Industri 4.0 dalam sektor manufaktur tidak hanya dapat membantu terciptanya lapangan pekerjaan, namun juga meningkatkan produktivitas dan neraca perdagangan sekaligus. Tiga tujuan utama Menciptakan Indonesia 4.0 dapat diringkas sebagai berikut (Gambar 3).

Source: www.kemenperin.go.id/download/18384

Analisis industri menunjukkan lima sektor tertinggi yang dapat mendorong pertumbuhan neraca perdagangan dan dengan mudah memanfaatkan Industri 4.0 adalah seperti di bawah ini (Gambar 4). Dapat kita lihat dari gambar tersebut, 3 dari 5 sektor (makanan & minuman, tekstil & pakaian, elektronik) merupakan produk konsumen.

Source: www.kemenperin.go.id/download/18384

Apa Artinya Bagi Saya?

Anda mungkin berpikir, “Jika perusahaan saya kebetulan merupakan salah satu dari ke-5 sektor di atas, apa artinya untuk saya? Apa yang harus saya lakukan?” Sebelum kita membahas apa yang harus kita lakukan dan ke mana kita harus melangkah, kita harus memiliki pemahaman dasar di mana posisi kita saat ini.

Yang pertama, saya ingin memperkenalkan kerangka sederhana yang diadaptasi dari Bapak I Gusti Putu Suryawirawan (Staf Khusus Menteri Perindustrian) yang bertanggung jawab atas keseluruhan strategi Making Indonesia 4.0 dari pemerintah. Saya mendapat kesempatan untuk berbincang dengan beliau saat saya menjadi pembicara di salah satu sesi perencanaan untuk Industri 4.0 di Kementerian Perindustrian. Kita sebut saja kerangka ini kerangka HDNA yang merupakan singkatan dari:

  • Human (Manusia) – Modal manusia yang kita miliki
  • Devices (Peralatan) – Sensor dan peralatan elektronik yang akan saya sebut sebagai implementasi garis depan.
  • Networks (Jaringan) – Infrastruktur dan komunikasi jaringan
  • Applications (Aplikasi) – Perangkat lunak oleh kami

Yang kedua, pastikan bahwa kita benar-benar memahami makna Industri 4.0 dan teknologi yang mendukungnya. Untuk itu, kita harus mengetahui seluruh revolusi industri yang pernah terjadi di masa lampau. Berikut ini merupakan salinan dari laporan Making Indonesia 4.0 (Gambar 5).

Source: www.kemenperin.go.id/download/18384

Lantas, di mana letak perbedaan dari apa yang terjadi saat ini dan di masa lampau? Bukan hanya teknologinya saja, namun juga komunikasi dan antarmuka ‘pikiran manusia’ di dalam prosesnya. Mari kita jelajahi lebih dalam.

Cara termudah untuk membayangkan evolusi Industri 1.0 hingga 4.0 adalah dengan contoh. Bayangkan mulanya hanya ada satu orang yang membuat sepatu. Orang ini dapat menjaga kualitas produksinya namun hasil yang diproduksi sangat sedikit. Bayangkan jika orang ini diberi seperangkat alat yang dapat membantunya bekerja lebih cepat. Saya sebut ini dengan Industri 1.0. Pada tahap ini, kualitas produk tetap terjaga sementara hasil produksi mulai meningkat.

Bayangkan jika orang ini ingin mengembangkan bisnisnya dan untuk itu dia mempekerjakan sebuah tim. Dia mengetahui bahwa untuk meningkatkan hasil produksi, cara lebih baik yang bisa dilakukan adalah jika sekelompok pekerja membuat sol sepatu, sekelompok lainnya membuat bagian atas sepatu, dan kelompok terakhir menggabungkan semua komponen sepatu tersebut. Dan dia memberikan seperangkat alat untuk tiap kelompok tersebut untuk memudahkan pekerjaan mereka. Saya sebut ini dengan Industri 2.0. Pada tahap ini, hasil produksi mulai meningkat namun kualitas produk menjadi tidak tentu.

Bayangkan jika kita memiliki seperangkat mesin yang dioperasikan oleh satu orang dan bisa melakukan pekerjaan yang dilakukan masing-masing kelompok di atas secara saling terhubung. Saya menyebutnya lini produksi modern dan kita akan mendapatkan laporan pada setiap akhir minggu tentang kinerja mesin dan para karyawan sekaligus. Saya sebut ini dengan Industri 3.0. Pada tahap ini, hasil produksi meningkat pesat sementara kualitas produk diusahakan bisa konsisten namun masih tidak tentu. Mengapa tidak tentu? Karena mesin tidak serta merta mengatur dirinya sendiri berdasarkan pada apa yang telah diproduksi sebelumnya dan parameter yang digunakan saat ini dari setiap bagian mesin.

Bayangkan sekarang jika mesin tersebut bisa memberitahu manusia parameter dan kinerja operasinya saat ini, dan manusia mampu bereaksi terhadap perubahan parameter ini sesegera mungkin dengan cara mengubah pengaturan mesin di setiap tahap proses produksi atau manufaktur. Saya sebut ini dengan Industri 4.0. Pada tahap ini, parameter dan operasi mesin dikendalikan secara waktu nyata menggunakan devices (peralatan) pada mesin yang terhubung dengan network (jaringan) sehingga dapat terbaca oleh komputer. Komputer ini menggunakan applications (aplikasi) dengan data yang menjalankan kecerdasan buatan yang meniru cara berpikir dan cara mengambil keputusan manusia pada kecepatan tinggi, dan memberi human (manusia) rekomendasi atau melaporkan pada manusia tindakan proaktif yang sudah dijalankan mesin tersebut.

Sekarang mari kita memecahkan mitos lapisan-lapisan teknologi yang digunakan pada Industri 4.0 pada penjelasan di bawah ini menggunakan kerangka HDNA (Human, Devices, Networks, Applications).

Source: www.kemenperin.go.id/download/18384

Teknologi yang mendukung Industri 4.0 bisa dipecah menjadi tiga lapisan:

  • Lapisan Fisik – Lapisan di mana devices (peralatan) berada. Manusia menggunakan fungsi teknologi (seperti Realitas Maya atau Realitas Tertambah), robot dan mesin canggih (Cetak 3D) berdasarkan perintah yang diberikan. Semua hal tersebut merupakan devices (peralatan) dan, tergantung jenis industri, bisa berada di dalam atau di luar fasilitas pabrik. Kuncinya adalah bahwa devices (peralatan) ini dapat berbicara.
  • Lapisan Konektivitas – Lapisan di mana networks (jaringan) berada. Lapisan ini akan menghubungkan devices (peralatan) di berbagai lokasi dan memungkinkan peralatan ini saling melihat satu sama lain, dan yang lebih penting, berkomunikasi dengan satu atau lebih gugus pusat proses. Jaringan dari peralatan yang saling terhubung ini disebut IOT (Internet of Things).
  • Lapisan Logis – Lapisan di mana applications (aplikasi) berada. Lapisan ini merupakan gugus pusat proses yang ‘berbicara’ dengan peralatan dan memproses informasi. Lapisan ini memungkinkan informasi yang terkumpul diproses oleh perangkat lunak dan menjadikannya informasi yang berharga bagi bisnis. Salah satu perangkat lunak yang dapat digunakan adalah Kecerdasan Buatan.
  • Lapisan Manusia – Lapisan inilah yang menyatukan ketiga lapisan di atas dan sekaligus berperan di setiap lapisannya. Pada akhirnya, tujuan teknologi adalah untuk memberi manfaat pada manusia. Dengan contoh ini, perhatikan bagaimana peran manusia berubah di setiap lapisan. Teknologi akan selalu membutuhkan manusia.

Bagaimana Saya Menggunakan Kerangka HDNA?

Sebelum kita berbicara mengenai modernisasi fasilitas kita dan menggunakan jargon populer seperti ‘pemeliharaan prediktif’ atau ‘pengalaman pelanggan’, mari kita tinjau pendongkrak nilai bisnis produk konsumen modern. Saya telah menciptakan diagram sederhana pendongkrak nilai untuk memberi ilustrasi pembahasan kita.

Source: www.kemenperin.go.id/download/18384

Setiap bisnis produk konsumen bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dengan meningkatkan pendapatan atau mengurangi biaya agar lebih efisien. Jika Anda sudah memahami pendongkrak nilai bisnis tersebut, mari kita telusuri di mana Humans, Devices, Networks, and Applications akan berperan dan pertanyaan-pertanyaan yang akan timbul nantinya. Cara yang paling mudah untuk mengidentifikasi dan berperan dalam Industri 4.0 adalah dengan melihat pendongkrak nilai yang tergantung pada terdapatnya teknologi. Mari kita lihat dari tiap sudut pandang

Sudut Pandang Devices (Peralatan)

Dengan menggunakan teknologi atau peralatan yang dapat berbicara satu sama lain, pendongkrak nilai mana yang memberikan peningkatan efisiensi yang besar (yang ditunjukkan dengan meningkatnya hasil produksi dengan biaya yang sama atau bahkan lebih rendah) atau kualitas produk?

Mari kita gunakan skenario berikut untuk menggambarkan ilustrasinya. Bayangkan bahwa Anda memiliki bisnis di sektor makanan dan minuman dan ingin mengembangkan bisnis Anda ke luar pulau Jawa. Sebagai bagian dari keseluruhan strategi bisnis, Anda memutuskan untuk mendirikan gudang dan membuat rute pengiriman baru untuk mendukungnya. Dalam hal ini, perlengkapan atau teknologi yang berhubungan dengan gudang dan truk merupakan pilihan peralatan yang tepat.

Untuk gudang, peralatan dapat berbentuk sensor yang memonitor suhu, label elektronik (RFID) yang mengirim informasi barang seperti tanggal dan kode kedaluwarsa, dan pembaca elektronik yang secara otomatis membaca informasi pada label tersebut. Berkomunikasinya peralatan ini dapat meningkatkan efisiensi pergerakan logistik dan entri data. Untuk truk, peralatan dapat berbentuk sensor yang melacak posisi GPS, tekanan roda, bahan bakar, dan suhu. Berkomunikasinya peralatan ini dapat memastikan rute yang paling efisien dan waktu perjalanan terbaik untuk menjamin pengiriman yang cepat dengan konsumsi bahan bakar terendah.

Poin kuncinya adalah bagaimana Anda secara strategis dapat mengidentifikasi informasi kunci yang Anda inginkan dan di mana tempat terbaik untuk mendapatkan data ini. Setelah teridentifikasi, skenario ideal selanjutnya adalah menentukan di mana harus meletakkan peralatan ini. Peralatan dapat berbentuk berbagai jenis sensor, ada yang siap beli buatan pabrik OEM atau perangkat yang bisa tim Anda ciptakan sendiri. Kuncinya di sini adalah memastikan bahwa peralatan ini memiliki kemampuan konektivitas yang memungkinkannya terhubung dengan sebuah jaringan dan melakukan komunikasi dua arah.

 Sudut Pandang Network (Jaringan)

Jaringan pada dasarnya adalah infrastruktur komunikasi yang dibutuhkan untuk menghubungkan peralatan. Dalam kasus skenario gudang dan truk kita, hal yang paling penting adalah memastikan infrastruktur komunikasi yang aman dan kuat. Untuk gudang, ini berarti memastikan intranet yang aman di mana peralatan dengan mudah dapat diidentifikasi dari alamat IP mereka dan informasi atau aktivitas yang terjadi dengan mudah dapat diakses melalui perintah tindakan dari jaringan. Untuk truk, ini berarti memastikan peralatan ini dapat berkomunikasi dengan aman melalui jaringan mobil. Pada saat ini, mungkin akan dibutuhkan lebih dari satu hotspot mobil untuk tersambung atau memiliki kartu SIM untuk masing-masing peralatan dalam truk. Yang paling penting, pastikan bahwa stream data terenkripsi dan tentukan apakah data tersebut dialirkan secara waktu nyata atau pada kurun waktu tertentu (setiap 15 menit misalnya).

Internet of Things (IOT) mulai berperan ketika peralatan ini mulai menggunakan jaringan untuk berbicara dengan hub pusat atau satu sama lain. Peralatan di dalam jaringan perusahaan akan dengan mudah ditangkap server yang membaca data dalam peralatan tersebut. Peralatan yang berada di luar jaringan perusahaan perlu terhubung dengan sebuah hub IOT. Bayangkan sebuah hub adalah sebuah tempat di mana sebuah perusahaan mengelola seluruh stream data dan peralatan yang terhubung dengan jaringan mobil. Yang terjadi pada tahap ini adalah Anda akan memiliki banyak silo data baik di luar maupun di dalam perusahaan yang harus Anda kelola bersama. Bagian ini yang akan membawa kita ke bagian kerangka selanjutnya.

Sudut Pandang Applications (Aplikasi)

Pada tahap ini, IOT merupakan seperangkat peralatan pada sebuah jaringan di mana datanya dikumpulkan di sebuah silo atau hub. Tahap berikutnya adalah menggabungkan seluruh stream data ini untuk mendapatkan nilai dan dampak bisnis. Mari kita gunakan contoh gudang dan truk lagi.

Untuk gudang, bayangkan bagaimana label dan pembaca RFID dapat digunakan secara otomatis untuk menunjukkan proses pemilihan, pengepakan, dan pengiriman di berbagai sistem. Anda perlu sebuah aplikasi, misalnya Enterprise Resource Planning (ERP), perangkat lunak yang dengan mudah dapat mengambil stream data dari IOT dan melakukan tindakan yang diperlukan – secara otomatis melakukan posting sesuai urutan yang benar dan menggunakan data untuk memperbarui informasi seperti perencanaan kebutuhan bahan dan perencanaan produksi.

Pada saat yang bersamaan, bayangkan jenis informasi dan perintah yang dapat dikirim ERP ke peralatan-peralatan tersebut. Informasi dan perintah tersebut dapat berupa penulisan ulang label secara waktu nyata untuk mempersiapkan pengiriman berikutnya sekaligus pemberitahuan kepada operator manusia palet yang harus digunakan atau dipindahkan. Jenis lainnya dapat berupa memberi peringatan kepada operator manusia adanya masalah pada bahan dan rekomendasi penggantian bahan tersebut dengan bahan lain.

Untuk truk, bayangkan bagaimana sensor yang berada di truk memungkinkan dilakukannya pengawasan kendaraan dan pengiriman barang secara waktu nyata. Informasi tersebut dapat digunakan untuk merencanakan perawatan truk berdasarkan pada perjalanan dan penggunaannya, dan pada saat yang bersamaan digunakan untuk membuat perencanaan rute berdasarkan jarak tempuh yang telah dilakukan. Pada saat yang bersamaan, bayangkan bagaimana pengendara truk dapat secara proaktif diberi peringatan jika ada masalah dengan truk dan memberi rekomendasi untuk memperbaiki truk atau mengalihkan pengiriman ke kawan terdekat.

Sebagaimana Anda dapat lihat bahwa perangkat lunak aplikasi yang merupakan ‘otak’ dari keseluruhan ‘tubuh’ Industri 4.0. Anda harus memiliki inti digital yang kuat dan kokoh sekaligus ekstensi yang dengan mudah dapat ditambahkan. Hal ini memungkinkan Anda dapat memproses stream data dan aplikasi bisnis yang berbeda dari peralatan dan jaringan yang ingin Anda eksplorasi.

Sudut Pandang Human (Manusia)

Pada akhirnya, seluruh gabungan peralatan yang dapat berbicara satu dengan yang lainnya pada jaringan dan saling berkomunikasi atau mendapat perintah dari aplikasi berpusat pada peningkatan hidup manusia. Secara fitrah pekerjaan akan selalu berubah dan karyawan Anda juga harus mengikuti perubahan ini. Hal ini dapat berarti melatih lagi pegawai pabrik Anda agar merasa lebih nyaman dengan teknologi, dan yang lebih penting, mendampingi mereka agar mereka mendapatkan pengalaman yang benar.

Bahkan jika Anda memiliki HDNA yang tepat, kerangka tersebut harus sesuai dengan bagaimana kita sebagai manusia bekerja pada skenario tertentu – atau disebut pengalaman pengguna. Pengalaman pengguna adalah pemahaman bagaimana sebuah aplikasi digunakan dalam skenario yang dihadapi seorang pegawai sehari-hari. Pengalaman pengguna adalah segala sesuatu yang memastikan bahwa aplikasi tersebut menyajikan atau menciptakan peringatan yang mudah dibaca dan membuat pengguna mudah meresponnya. Dan jika peralatan mobil atau peralatan yang bisa dipakai dibutuhkan dalam penggunaan aplikasi tersebut, harus dipastikan bahwa bentuk peralatan tersebut tidak mengganggu mereka menyelesaikan pekerjaannya, atau dengan kata lain tidak berat dan rumit.

Dalam hal keterampilan untuk mewujudkan Industri 4.0, dibutuhkan keterampilan teknis yang kuat, orang-orang bisnis yang cerdas, dan karyawan garis depan yang siap melakukan pekerjaan siang dan malam. Tim IT yang telah ada harus dapat mempelajari dan memanfaatkan teknologi baru atau perubahan paradigma. Orang-orang bisnis harus mulai mempertimbangkan teknologi sebagai faktor yang mendukung terciptanya strategi bisnis. Karyawan garis depan juga harus memberanikan diri mendefinisi ulang pekerjaan mereka dengan melibatkan teknologi sebagai bagian dari pola pekerjaannya.

Rangkuman

Harapan saya kerangka HDNA (Human, Devices, Network, and Applications) dan contoh yang saya paparkan dapat membantu menyederhanakan cara pandang tentang Industri 4.0 untuk bisnis Anda di Indonesia. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman mewujudkan proyek Industri 4.0, saya selalu meminta klien saya untuk berpikir besar sekaligus pragmatis dalam waktu yang sama. Itulah pentingnya memahami pendongkrak nilai di perusahaan Anda dalam kaitannya dengan proposisi dan posisi nilai dalam hal bisnis.

What Others Are Reading